Tahun 2005-2007 yang lalu saya punya seorang staff di the ark school yang sangat rajin bekerja. Kehadirannya di kursus bahasa Inggris dan Matematika yang saya kelola sangat banyak membantu. Dia sangat rajin ‘bercerita’ tentang the ark school pada setiap orang yang dia temui. Sering sekali dia berhasil meyakinkan banyak orang bahwa memilih belajar di the ark school adalah sebuah pilihan cerdas dan bijaksana.
Dia memiliki banyak kebiasaan baik yang patut kita tiru.
Pertama, dia sangat rajin memasak. Saya pribadi sangat suka masakannya. Saya sering meminta dia memasak mie kesukaan saya. Mie gomak a la batak.
Kedua, dia sangat ramah. Dia tipe orang yang rajin ‘berceramah’ pada setiap orang yang dia temui. Dia suka tertawa ngakak. Sehingga banyak orang sangat suka guyon dengan dia.
Ketiga, dia rajin belajar. Walau tidak memiliki kesempatan kuliah tinggi karena kendala ekonomi, dia tetap rajin belajar. Buktinya dia mahir berbahasa Inggris dan mengoperasikan komputer.
Keempat, dia memiliki perencanaan hidup. Dia suka menabung. Walau dia sudah menikah dan punya anak, dia tetap ‘mencuri’ waktu untuk kuliah. Dalam waktu dekat dia akan menyelesaikan studi S1 nya. Di tempat dia bekerja saat ini, dia memiliki posisi yang cukup bagus.
Kelima, the last but not the least. Dia bijak mengatur kegiatan. Hal baik kelima ini adalah yang paling saya kagumi dari dia karena hal kelima ini adalah kebiasaan yang sangat langka. Saat itu dia memiliki seorang pacar yang telah menjadi suaminya sekarang. Ketika pacaran, dia melarang pacarnya datang menemui dia pada malam minggu. Alasannya cukup sederhana tapi langka. Dia tidak ingin ngantuk di Gereja pada saat kebaktian esok paginya gara-gara pacaran. Sehingga mereka kencannya selalu minggu sore. Demikian terjadi seterusnya hingga akhirnya mereka menikah. Langka bukan?
Sampai sekarang saya tidak bisa bisa melupakan kebaikan dia. Saya sudah mengenal dia sejak dia kelas II SMA. Suatu hari dia pernah meminta agar saya bersedia dia anggap sebagai abang kandungnya, sebagai gurunya sekaligus sebagai seorang ayah bagi dia. Ayah kandungnya telah passed away sewaktu dia mash kecil.
Tentunya saya bersedia. Malah saya sangat bangga memiliki seorang ‘adik, siswa dan putri’ seperti dia..
Marilah kita telaah lagi setiap kebiasaan-kebiasaan dalam diri kita. Apakah baik atau tidak? Karena sesungguhnya tidak semua kebiasaan adalah baik. Tapi semua kebaikan harus kita biasakan… Betul bukan?
_wanditambunan_
3 komentar:
y lae.. kebiasaan baik pun menurut buku belum tentu baik bagi kita,, klo bagi saya yg baik itu jika saya bisa melakukannya dengan senang hati..
do things right identik dengan bagaimana kita mengerjakan sesuatu.. tapi do the right things identik dengan kebiasaan yg kita kerjakan...yg terbaik adalah menikmati setiap kebiasaan baik yg kita kerjakan...
baik jg kalau nama 'dia' disebutkan di posting ini..
ku pikir, membiasakan yg benar jauh lbh baik. entahkah kt bs nikmati ato tdk, tp yg benar tetaplah baik. :)
Posting Komentar