Coba amati gambar disamping! Apakah posisi tangan saya senada dengan senyuman dan tatapan mata saya?
Menurut anda, sbenarnya otak saya menyuruh saya untuk tersenyum, atau membuat jari dan tangan sperti itu? atau malah menatap dengan cara yang demikian?
Atau mungkin saya membuat jari dan tangan saya sperti itu karena sudah jadi kebiasaan stiap berfoto jari dan tangan saya langsung refleks sperti itu tanpa diperintah oleh otak?
Mari kita analisa lagi dari kasus ini...
Tadi ketika saya mau menghidupkan musik di computer saya, saya bukannya nge klik icon winamp di desktop komputer saya, eeehh…, saya malah nge klik icon Mozilla firefox. Saya confused banget. Sbenarnya yg mrintah kita berbuat sesuatu otak apa kebiasaan. Jangan-jangan kebiasaan saya sudah menginvasi otak saya. Sperti pesan bang napi, ‘ Waspadalah!’
Problem ini pun berlanjut ketika 10 menit kemudian saya mengajar di kelas. Setelah memberikan beberapa menit waktu untuk menjawab pertanyaan multiple choice, kami membahasnya bersama sama. Saya bertanya pada siswa: What is the answer? Salah satu siswa menjawab: (E). He has been working. Padahal mata saya tertuju pada kalimat di kertas: (E). He has been thinking. Tapi saya malah berkata: Yes. That’s right. The answer is (E). He has been working. Yang paling membuat saya bingung adalah: Sebenarnya mulut mengucapkan yang dilihat mata atau yang di dengar telinga atau yang diperintah otak?
What do you think friends? Saya berharap jawaban anda adalah perintah dari otak Anda…
by: Wandi Tambunan