Rabu, Oktober 27, 2010

otak vs mata vs telinga: apakah masih senada alias teamwork?

Coba amati gambar disamping! Apakah posisi tangan saya senada dengan senyuman dan tatapan mata saya?

Menurut anda, sbenarnya otak saya menyuruh saya untuk tersenyum, atau membuat jari dan tangan sperti itu? atau malah menatap dengan cara yang demikian?

Atau mungkin saya  membuat jari dan tangan saya sperti itu karena sudah jadi kebiasaan stiap berfoto jari dan tangan saya langsung refleks sperti itu tanpa diperintah oleh otak?

Mari kita analisa lagi dari kasus ini...


Tadi ketika saya mau menghidupkan musik di computer saya, saya bukannya nge klik icon winamp di desktop komputer saya, eeehh…, saya malah nge klik icon Mozilla firefox.  Saya confused banget. Sbenarnya yg mrintah kita berbuat sesuatu otak apa kebiasaan. Jangan-jangan kebiasaan saya sudah menginvasi  otak saya. Sperti pesan bang napi, ‘ Waspadalah!’
Problem ini pun berlanjut ketika 10 menit kemudian saya mengajar di kelas. Setelah memberikan beberapa menit waktu untuk menjawab pertanyaan multiple choice, kami membahasnya bersama sama. Saya bertanya pada siswa: What is the answer? Salah satu siswa menjawab: (E). He has been working. Padahal mata saya tertuju pada kalimat di kertas: (E). He has been thinking. Tapi saya malah berkata: Yes. That’s right. The answer is (E). He has been working. Yang paling membuat saya bingung adalah: Sebenarnya mulut mengucapkan yang dilihat mata atau yang di dengar telinga atau yang diperintah otak?
What do you think friends? Saya berharap jawaban anda adalah perintah dari otak Anda…

by: Wandi Tambunan




Teladan Daniel


Tidak mudah menjalani hidup berintegritas.Hidup benar di tengah sekuleritas.Tapi bukan berarti mustahil. Daniel telah berhasil menjalani hidup berintegritas di tengah sekuleritas kerajaan Babel dengan Nebukadnezar sebagai seorang raja yang sangat kejam yang tidak segan-segan membunuh  orang yang menentang ketetapannya walau orang tersebut adalah pegawai kesayangannya seperti yang pernah dialami oleh Daniel dengan teman SMA nya [Sadrakh, Mesakh & Abednego).
Tapi bagaimana bisa? Dari pengamatan saya pribadi dari kitab Daniel berikut ini beberapa tipsnya:

1.       Daniel menjaga kekudusan hidupnya (Daniel 1:8)
‘Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya’

2.       Daniel bergantung kepada Allah (Daniel 2:16-18)
Ketika menghadapi tantangan bahwa semua orang-orang bijaksana akan dibunuh maka Daniel beserta teman SMA nyaberdoa bersama untuk memohon belas kasihan Allah.

3.       Daniel tidak memegahkan diri sendiri (Daniel 2:20 & 30)
20 ‘Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan!

4.       Daniel setia bersekutu dengan Allah (Daniel 6:11)
Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia kerumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka kearah Yerusalem; tiga kali sehari  ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.


Jika kita setia menjaga kekudusan hidup kita, senantiasa bergantung kepada Allah, tidak memegahkandiri sendiri dan senantiasa setia bersekutu dengan Allah maka pertolongan dari Allah yang melampaui segala akal akan menyertai kita senantiasa seperti yang Daniel Alami. Amin.