Kamis, September 01, 2011

Faedah Dorongan _ PUSH yourself to the LIMIT

Sejak usia 5 tahun orangtua kami sudah membawa kami bekerja mencangkul di ladang. Kerap kali kami sekeluarga mencangkul bersama-sama. Satu hal yang sangat saya senangi adalah saya sangat menikmatinya. Di bawah panas terik matahari dan kadang hujan sekalipun kami tetap mencangkul. Bagaimana tidak?

Ayah kami sangat rajin memotivasi kami. Dia selalu memuji kami atas kelebihan kami masing-masing. Dia selalu memuji abang saya yang pintar pelajaran berhitung. Dia selalu memuji kedua adik saya yang tekun dalam mengerjakan sesuatu. Dia juga membesarkan hati saya yang pandai bermain sepak bola pada saat itu.

Setiap malam kami belajar bersama seusai makan malam. Ayah kami selalu mengajari kami belajar. Dia sangat pintar. Dia selalu menekankan ke kami betapa pentingnya jenius dalam pelajaran matematika. Dia selalu mengaku bahwa dia lebih pintar berbahasa Inggris daripada guru bahasa Inggris kami. Dia melakukanya demi membesarkan hati kami. Setidaknya kami jadi bangga bisa diajari bapak berbahasa Inggris walau hanya sebatas vocabulary dan kalimat-kalimat singkat dalam bahasa Inggris. Tidak jarang dia mengatkan bahwa dia sanggup mengajari kami hingga ke bangku kuliah. Walau sebenarnya dia tidak memiliki kemampuan itu. Tapi dia bersikap begitu demi memotivasi kami.
Ayah kami selalu berkata bahwa kami adalah orang paling pintar di desa kami. Dan akhirnya terbukti memang. Kami berempat selalu langganan ranking 1-3 di sekolah. Semua itu tidak terlepas dari dorongan kuat dari ayah kami.

Satu hal penting yang harus kita SIMAK. Bahwa seseorang akan berjalan lebih jauh daripada yang dia pikirkan ketika ada seorang yang dia hormati mengatakan bahwa dia mampu. Itulah yang terjadi pada kami. Khususnya saya. Walau dari latar belakang ekonomi lemah, ayah saya selalu meyakinkan saya bahwa saya bisa menjadi pribadi yang berhasil dalam hidup saya. And thanks God… Saya bisa meraihnya…

_wanditambunan_

Be a Mature Adult not a Childish Adult


Kerap kali kita menyalahkan orang lain atas kesalahan kita sendiri. Kita mengkritik orang lain pada saat kita melakukan kesalahan. Siapapun tidak suka ‘diserang’. Sehingga sering sekali mengkritik orang lain menjadi senjata yang ampuh untuk menutupi kesalahan sendiri.

Di sebuah rumah tangga juga sering kali terjadi konflik dan percekcokan karna suami atau istri suka mengkritik. Seharusnya suami atau istri belajar keras bagaimana cara memuji pasangannya.

Pemeran antagonist dalam ‘sandiwara’ hidup ini kerapkali diperankan oleh pria. Pria memiliki ego yang lebih tinggi dibandingkan wanita. Seharusnya pria menyadari peran protagonist yang dimainkan oleh wanita dalam hidupnya.

Sewaktu pemerintahan Presiden Ronald Reagan, para pemimpin tujuh Negara industri dunia mengadakan pertemuan di Gedung Putih untuk membicarakan soal kebijakan ekonomi. Dalam pertemuan tersebut Perdana Menteri Kanada Pierre Trudeau selalu mengecam dengan pedas Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, dengan mengatakan bahwa kebijakan yang diambil oleh Thatcher adalah sebuah kekeliruan besar dan tentunya tidak akan dapat dijalankan. Thatcher berdiri dihadapannya dengan kepala tegak, mendengarkan dengan cermat semua yang dikatakan sampai selesai. Kemudian ia pergi.

Reagan menghampirinya dan berkata, “Maggie, seharusnya ia tidak berkata seperti itu. Ia keliru, sama sekali keliru. Mengapa Anda biarkan?”
Thatcher memandang Reagan dan menjawab, “Seorang perempuan harus tau saat seorang pria bertingkah kekanak-kanakan.”

Kisah ini menunjukkan bahwa betapa seringkali para pria malah mengkritik ketika melakukan sebuah kesalahan. Hal ini mengindikasikan sifat kekanak-kanakan dari seorang pria.

Tidakkah seharusnya kita malu jika para wanita yang bersikap lebih dewasa dari kita? Bukankah sering kali para wanita harus letih lelah berupaya untuk memahami para pria? Setidaknya itu yang saya amati. He he he …

Therefore, Let’s become a mature adult, not a childish adult.

_wanditambunan_

Bersiaplah Maju sebagai P E M I M P I N

Bangunlah sesuai talentamu dan bersiaplah maju sebagai pemimpin. Tak peduli berapa jauh jalan salah yang telah kita jalani, putar arah sekarang juga dan perbaiki segala langkah salah.

Tingkatkan kualitas dirimu. Asahlah talentamu. Bangunkanlah raksasa dalam dirimu. Bangunlah dan bermimpilah. Sekaranglah saatnya kamu harus bersiap dan maju sebagai pemimpin. Kamu harus menjadi pembaharu. Menjadi agent of change. Menjadi transformer. 

Usahakanlah kesejahteraan kota dimana kamu tinggal. Berbuatlah. Jangan lengah. Lihat sekelilingmu. Sangat banyak yang membutuhkanmu. Jangan tega membiarkan mereka menderita. Sayangilah mereka. Sampaikan kabar baik. Bantulah hidup mereka. Perlengkapilah dirimu menjadi pengaruh luar biasa bagi kehidupan. Bawalah berita kekekalan itu bagi semua orang.

_wanditambunan_