Sejak usia 5 tahun orangtua kami sudah membawa kami bekerja mencangkul di ladang. Kerap kali kami sekeluarga mencangkul bersama-sama. Satu hal yang sangat saya senangi adalah saya sangat menikmatinya. Di bawah panas terik matahari dan kadang hujan sekalipun kami tetap mencangkul. Bagaimana tidak?
Ayah kami sangat rajin memotivasi kami. Dia selalu memuji kami atas kelebihan kami masing-masing. Dia selalu memuji abang saya yang pintar pelajaran berhitung. Dia selalu memuji kedua adik saya yang tekun dalam mengerjakan sesuatu. Dia juga membesarkan hati saya yang pandai bermain sepak bola pada saat itu.
Setiap malam kami belajar bersama seusai makan malam. Ayah kami selalu mengajari kami belajar. Dia sangat pintar. Dia selalu menekankan ke kami betapa pentingnya jenius dalam pelajaran matematika. Dia selalu mengaku bahwa dia lebih pintar berbahasa Inggris daripada guru bahasa Inggris kami. Dia melakukanya demi membesarkan hati kami. Setidaknya kami jadi bangga bisa diajari bapak berbahasa Inggris walau hanya sebatas vocabulary dan kalimat-kalimat singkat dalam bahasa Inggris. Tidak jarang dia mengatkan bahwa dia sanggup mengajari kami hingga ke bangku kuliah. Walau sebenarnya dia tidak memiliki kemampuan itu. Tapi dia bersikap begitu demi memotivasi kami.
Ayah kami selalu berkata bahwa kami adalah orang paling pintar di desa kami. Dan akhirnya terbukti memang. Kami berempat selalu langganan ranking 1-3 di sekolah. Semua itu tidak terlepas dari dorongan kuat dari ayah kami.
Satu hal penting yang harus kita SIMAK. Bahwa seseorang akan berjalan lebih jauh daripada yang dia pikirkan ketika ada seorang yang dia hormati mengatakan bahwa dia mampu. Itulah yang terjadi pada kami. Khususnya saya. Walau dari latar belakang ekonomi lemah, ayah saya selalu meyakinkan saya bahwa saya bisa menjadi pribadi yang berhasil dalam hidup saya. And thanks God… Saya bisa meraihnya…
_wanditambunan_