Jumat, September 02, 2011

Berkomunikasi dengan Bijaksana


Photo new year 2009. Menunjungi oppung Balige
setelah saya menikah dan kerja
Tahun 1999 yang lalu saya pergi ke Balige menemui oppung (nenek) saya. Saat itu saya masih semester III kuliah. Saya pergi ke sana karena saya tidak lagi memiliki uang untuk kehidupan saya sehari-hari di Medan. Setibanya di rumah oppung, saya sangat kaget. Oppung saya berjalan dengan sangat cepat dan memeluk saya sambil mencium saya. 

Segera kemudian dia membeli daging dari kedai tetangga. Dia menghidangkannya. Herannya, dia menghidangkan 2 piring nasi seolah-olah kami berdua akan makan bersama. Kemudian dia memimpin doa makan. Ketika berdoa, dia juga mendoakan perkuliahan saya, keluarga dan kehidupan pribadi saya. AMIN! Seusai berdoa dia berkata, “Makanlah, saya sudah makan tadi”. Dia sengaja membuat dua piring supaya dia yang pimpin doa. Padahal hanya saya yang makan.

Sambil saya menikmati makan siang yang dia sediakan, dia banyak bertanya tentang kuliah dan kehidupan saya sehari-hari di Medan. Dia banyak menasihati saya supaya saya sungguh-sungguh belajar dan serius menyelesaikan perkuliahan saya.

Kagetnya… Dia tidak ada mengeluh. Baik tentang kesehatannya yang sudah mulai menurun maupun tentang masalah-masalah keluarga anak-anaknya.
Yang lebih mengherankan lagi… besok paginya jam 05.00 WIB dia bangun untuk berdoa. Doanya cukup panjang. Saya yakin dia mendoakan banyak hal. Saya yakin dia juga pasti mendoakan saya. Setelahnya dia pergi ke dapur untuk memasak.

Selama saya berada disana dia hampir tidak ada membicarakan keburukan siapapun. Pun tidak keburukan anak bungsunya yang agak angkuh.

Barangkali tanpa disadarinya dia tahu persis perbedaan antara orang besar, orang biasa-biasa dan orang-orang kecil.  Bukankah orang-orang kecil suka membicarakan keburukan atau barangkali ‘memburukkan’ orang lain? Alias gossip. Dan orang-orang biasa suka membicarakan tentang kehebatan diri mereka sendiri. Tidakkah kita tau jika kita suka membahas ide-ide atau solusi-solusi konkrit dari sebuah permasalahan maka kita akan disebut orang besar?

Therefore.. Let’s dream big and think big! Stop gossiping but start great action!

Kita harus ingat bahwa orang bijaksana adalah orang yang memuji orang lain secara terbuka atau terang-terangan dan mengkritik orang lain secara pribadi. Tidakkah itu jauh lebih baik demi kerukunan bersama?

Let’s do it guys….

Luph u full!

_wanditambunan_

Being Responsible

Suatu hari, salah satu siswa kami terpelesat di tangga. Gusinya berdarah, tapi tidak ada masalah dengan giginya. Kami langsung membawa dia ke RS. Dia dirawat sekitar 45 menit. Seusai dirawat, dia menangis. Kemudian saya berkata, “ Kata dokter kamu tidak apa-apa. Sebentar lagi kita akan pulang. Kamu akan segera sembuh”. Kemudian dia berhenti menangis. 

Saya minta resep ke dokter. Istri saya langsung membeli obat yang dibutuhkan. Kami membayar semua biaya perobatan dia. Hampir Rp. 200.000,-. Tidak masalah yang penting dia sembuh.

Atas perintah dokter, kami bawa dia pulang. Kami langsung antar dia ke rumahnya. Pihak keluarganya sempat kaget. Kami menjelaskan kronologis kejadiannya tanpa menyalahkan siapapun. It was just an accident.  
Akhirnya pihak keluarga mengerti. Mereka sangat berterima kasih karena kami langsung membawanya untuk dirawat di RS. Mereka memberikan uang sebagai ganti biaya perobatannya. Kami menolaknya atas alasan kami yang bertanggung jawab. Karena dia jatuh di tangga kursus kami. Setidaknya peristiwa itu menjadi ‘reminder’ bagi kami agar tetap mengontrol siswa dengan lebih disiplin.
Ada beberapa hal yang saya pelajari dari kejadian tersebut.

*      Not blaming. Tidak mencari-cari kesalahan siapapun ketika sebuah ‘accident’ terjadi.

*      Save the victim. Mengutamakan keselamatan korban. Tidak peduli biaya atau keletihan yang harus kita korbankan yang penting kita mendahulukan menyelamatkan si korban.

*      Encouraging the victim. Menguatkan si korban bahwa tidak ada masalah yang serius.

*      Being Responsible. Bertanggung jawab atas kesalahan kita sendiri. Melakukan tindakan konkrit ketika sebuah masalah terjadi. Menghindari menyalahkan siapapun.

*      Learn something. Melakukan tindakan preventif agar tidak terjadi lagi kejadian yang sama. 


-wanditambunan_

Mengendalikan Emosi VS Dikendalikan Emosi

Saya betul-betul speechless menyaksikan pertandingan sepak bola Arsenal VS Newcastle 5 Februari 2011 yang lalu. Betapa tidak?

Arsenal yang sudah unggul 4-0 di babak pertama harus ‘menderita’ pengalaman pahit karena Newcastle mampu menyamakan ‘kedudukan’ menjadi 4-4 hingga akhir pertandingan.  Poin penuh hilang didapatkan Arsenal yang tengah berjuang mengejar MU saat itu.

Bagaimana hal itu terjadi?

Performa gemilang di paruh pertama berubah suram akibat perilaku tidak sportif Abou Diaby kepada dua pemain tuan rumah yang berujung kartu merah pada menit ke-50. Insiden bermula dari pelanggaran yang dilakukan Diaby kepada Joey Barton. Diaby kemudian memegang leher bagian belakang Barton dan mendorongnya sampai jatuh. Kevin Nolan kemudian menghampiri mereka dan berusaha melerai, tetapi didorong oleh Diaby.

Diaby telah dikendalikan oleh emosinya sehingga tidak bisa lagi bersikap tenang dalam mengatasi permasalahan sepele.

Wasit Philip Dowd yang berada tak jauh dari titik konflik langsung mengacungkan kartu merah kepada Diaby. Itu menjadi momen kebangkitan Newcastle. Mereka mulai berani menekan dan berhasil memaksa Arsenal bertahan. Dengan hanya bermain 10 orang dan dengan mood yang down Arsenal kehilangan keperkasaannya.

Unggul 4-0 di paruh pertama pertandingan menjadi sia-sia hanya gara-gara tidak bisa mengendalikan emosi adalah satu hal yang sangat disayangkan.

Therefore…..

Jika kita tidak ingin kebahagian kita hilang maka marilah kita mengendalikan emosi kita…

_wanditambunan_

Kebenaran yang Mengubahkan

Ketika masih remaja saya termasuk orang yang minder dan pemalu. Bagaimana tidak?

Pertama, Saya berasal dari keluarga ekonomi lemah. Lantas saya hanya bisa berpakaian seadanya saja dan tidak memiliki cukup uang jajan untuk mentraktir orang lain. Kedua, saya bukan tipe orang yang pandai bicara sehingga saya jarang tampil di depan publik. Ketiga, saya tidak memiliki cukup waktu luang untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga saya tidak memiliki banyak sahabat.
Lantas bagaimana perubahan itu terjadi?

Saya serius mempelajari kebenaran yang benar. Saya mulai rajin membaca kitab suci. Merenungkannya. Berdoa. Dan melakukannya dalam hidup saya. Perlahan tapi pasti, saya sangat menikmati perubahan dalam diri saya.
Ketika menghadapi banyak rintangan hidup, baik masalah uang, maupun masalah keluarga saya selalu ingat pesan Rasul Paulus: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13.

Saya selalu ingat bahwa saya sangat berharga di mata Allah. Kebenaran itu begitu kuat bekerja di dalam diri saya. Saya tidak lagi minder. Saya sudah mulai percaya diri.

Seiring waktu, saya terus meningkatkan kualitas diri saya. Melalui membaca, berinteraksi dengan orang-orang pintar, menulis, berpikir, bertukar pikiran dan selalu merenungkan kebenaran itu sendiri.
Maka sangat tepatlah apa yang Paul Hidayat pernah bilang, “Bila Anda mempelajari kebenaran, tetapi tidak mengalami perubahan hidup, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Anda tidak sungguh-sungguh belajar. Kedua, yang Anda pelajari bukan kebenaran.”

Pelajarilah kebenaran yang benar. Kebenaran yang mengubahkan. Dan pelajarilah dengan sungguh-sungguh. Maka hidup kita pasti diubahkan hari demi hari menuju kesempurnaanNya.

-wanditambunan_