curhat kegelisahan hati...
Dilema Kepala sekolah:
Jika banyak siswa tidak lulus UN berarti dia akan dianggap sebagai kepala sekolah yang gagal. Untuk menghindarinya maka dia akan berjuang habis-habisan alias.. all outs dengan berbagai stragtegi agar semua siswanya lulus UN. Mulai dari mengganti kunci jawaban siswa, memberi kunci jawaban yang benar, menyuap pengawas and so on. Yang penting TIDAK HALAL.
Dilema Guru:
Jika ada siswa yang tidak lulus maka guru bidang studi yang akan disalahkan. Berarti mereka dianggap tidak serius mengajar. Mereka akan di’cap’ guru yang gagal mengajar. Konsekuensinya, semua guru akan ikut rapatkan barisan berjuang bersama-sama dengan kepala sekolah ‘mensukseskan’ UN.
Dilema Siswa:
Siswa diberikan kunci jawaban sebelum ujian berlangsung. Jam 7.30 pagi sudah tiba di sekolah padahal ujian baru berlangsung jam 08.00 pagi. Siswa wajib terima, jika tidak, selain dimarahi guru dan kepala sekolah maka dia akan dianggap bodoh sudah dibantu kok malah menolak. Resiko sendiri jika tidak lulus. Daripada-daripada… ya udah deh…
Finally…
Siswa lulus seratus persen. Sebelum ujian gak belajar juga gak apa-apa. Kalo awak dulu sebelum ujian mati-matian belajar. Kalo sekarang siswa yang akan ujian bisa nonton TV sepanjang malam. Aneh bin ajaib. Akibatnya.. para siswa akan cerita ke adik-adik dan teman-temannya. Dampaknya? Para siswa akan malas belajar. Toh ujian nanti juga akan dibantu.. demikian komentar mereka. Jadinya makin rajin maen games, nonton TV dan menyia-nyiakan waktu luang.
Jikalau dulu guru-guru mati-matian menasihati siswa agar tidak menyontek sepanjang ujian berlangsung… sekarang… guru mati-matian membantu siswa menyontek selama ujian berlangsung. Akhirnya muncullah generasi muda malas belajar. Maka bisa dibayangkan Negara kita 5-10 tahun ke depan. Para siswa tadi akan menjadi pemimpin yang doyan korupsi, menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Haccurrrr lah Negara kita ini… ahyamangtahe….!
_wanditambunan_