Minggu, September 11, 2011

Petuah bagi yang Baru Menikah, Niat Menikah, Sedang Pacaran...

“Wah… gimana nih…? Saya tidak bisa pergi ke wedding party sahabat baik kita itu. Sepertinya mayoritas kita tidak bisa pergi ke sana karena hari Jumat semua masih kerja”, demikian keluh saya suatu hari sebelum pesta pernikahan sahabat kami semalam di Raya Gotting. Sekitar 3 jam dari Sidikalang arah ke Siantar.

Setelah berdiskusi alot akhirnya kami memutuskan untuk pergi hari Sabtu, satu hari setelah pesta pernikahan mereka. Kami berangkat ber6 naik mobil salah satu dari sahabat kami. Kami sangat menikmati sepanjang perjalanan kesana. Sharing yang dibumbui sangat banyak tawa dan canda. Lumayan menambah umur.

Setibanya di Raya Gotting, kami awali dengan mengucapkan selamat. Kemudian sharing seputar pesta pernikahan mereka. Walau topiknya agak serius kami tetap membicarakannya dalam suasana penuh canda dan tawa yang adalah sebuah habit di komunitas kami.

Thanks God. Dengan perut yang sudah mulai keroncongan akhirnya mereka menjamu kami makan siang. Barangkali masih ada makanan ‘sisa-sisa’ pesta semalam. As a matter of fact, it was very delicious.
Kemudian kami melaksanakan acara singkat untuk member selamat dan nasihat bagi mereka sebagai keluarga baru.

Mr. E, salah satu dari kami memberi nasihat seputar kehidupan berumahtangga. Beliau sangat menekankan bahwa apabila kita semakin mengasihi Tuhan maka secara otomatis kita akan semakin mengasihi keluarga kita. Dan jika terjadi konflik antara suami dan istri maka kita harus berusaha berinisiatif untuk membangun kembali suasana saling mengampuni dan mengasihi. Mr. E juga bercerita bagaimana dia selalu berusaha memulai komunikasi dengan istrinya tatkala menjalani sebuah konflik. Dia memiliki cara yang sangat unik. Dia mengirim SMS ke istrinya untuk minta maaf sekaligus rekonsiliasi. Walau mereka berdua sedang rebahan bersama di ranjang yang sama. (syukur2lah Mr. E hanya SMS tidak telp. ^_^ he he he). Unik dan luar biasa bukan?

Kemudian giliran saya memberikan petuah. Saya awali dengan kalimat sederhana tentang fakta yang terjadi. “Sedewasa dan serohani apapun seseorang, pasti pernah mengalami konflik dalam rumah tangga. Yang menjadi pertanyaan utama adalah bagaimna kita memenejemen sebuah konflik.

Saya pribadi dan istri kadang mengalami konflik diantara kami berdua karena perbedaan pemikiran dan kesalahpahaman. Tapi satu yang saya sangat syukuri adalah kami tidak pernah membiarkan konflik ‘bermalam’ di rumah tangga kami. Jangan pernah marahan bersamaan. Ketika istri yang marah, hendaklah suami mengalah dan sebaliknya.

Institusi pertama yang Tuhan dirikan adalah keluarga. Jika suami istri saling mengasihi maka kelurga akan menjadi  teladan. Dan jika keluarga bagus maka masyarakat akan bagus. Jika masyarakat bagus maka bangsa dan negara akan bagus. Semuanya dimulai dari keluarga.

Ketika Mother Teresa menerima Nobel penghargaan, salah satu peserta yang hadir bertanya, “How do we bring peace to the world?”. Mother Teresa memberikan jawaban singkat tapi berkualitas. “Go home! Love your family.” Mother Teresa sangat menekankan bahwa keluarga yang saling mengasihi adalah awal dari terciptanya sebuah perdamaian dunia.
Therefore, Let’s love our family!.” Demikian petuah dari saya sebagai orang yang sudah menikah.

Setelah kedua mempelai mengucapakan terima kasih, kemudian kami pulang ke Sidikalang dengan mobil, rute, penumpang bahkan suasana keakaraban yang sama..

Special thanks to Edis Nababan, Oca, Elvin Boers, Nelly, Juppa. It was a great and wonderful moment.

_wanditambunan_

Tidak ada komentar: